3 Misteri Tabi’at Manusia

kehidupan manusia di atas permukaan bumi senantiasa akan dihadapkan pada tiga misteri tabiat manusiawi manusia, mencintai dirinya sendiri, perbedaan yang lahir diantara manusia yang lain, tab’iat melakukan kesalahan. Tiga persoalan tersebut akan menjadikan manusia istimewa dan unggul dari manusia lainnya, ketika persoalan itu dipertemukan dengan undang-undang rabbani.

Mencintai dirinya Sendiri

Pada hakekatnya saya sebagai manusia tidak dapat hidup menyendiri dan menjauh dari manusia lainnya, walau saya memiliki harta yang cukup, energi yang senantiasa tersuplay, dan kebutuhan saya terpenuhi, tapi semua itu tidak akan menjadikan saya damai jika kebutuhan alami saya berinteraksi dengan orang lain tidak terpenuhi.

Islampun telah menyediakan sebuah pola untuk pembentukan, pembangunan dan pemeliharaan kebutuhan manusia akan manusia lainnya ini dengan dibangun dan dipelihara dalam keimanan kepada Allah. Sebagaimana Allah berfirman dalam surat al hujurat ayat 10, yang artinya: “Sesungguhnya orang-orang mu’min itu bersaudara..”

Ayat tersebut di atas mengajarkan kepada manusia bahwa keimanannya kepada Allah yang akan mengarahkan manusia memelihara kecintaannya kepada saudaranya seperti halnya dia mencintai dirinya sendiri. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda: “Tidak beriman salah satu diantara kalian hingga mencintai saudaranya sebagaimana mencintai dirinya sendiri” (HR. Bukhari).  Keimanannya pulalah yang akan menumbuhkan cinta hidup damai dengan semangat persaudaraan yang tumbuh dalam taman hatinya.

Karena itu Islam memberi solusi bagi tabi’at manusia mencintai dirinya sendiri, dengan membangun hubungan yang harmonis diantara saudaranya yang berlandaskan pada aqidah-imaniyah. Harapannya adalah tercipta manusia yang memiliki organ kekuatan pada dirinya untuk meminimalisir tabi’at kecintaannya pada dirinya sendiri.

Sebagian dari keindahan Islam adalah memotivasi manusia untuk melakukan pembangunan tabiat kecintaannya terhadap dirinya sendiri dengan mencintai saudaranya melebihi dirinya sendiri. Motivasi tersebut dimaksudkan agar manusia memiliki energi yang cukup untuk menjalin hubungan yang harmonis dengan sesamanya, yang kemudian akan menjadi tabungan pahala untuk akhiratnya kelak.

Saling Berbeda

Pada hakekatnya sesungguhnya saya tidak memiliki kesamaan dengan manusia lainnya. Dengan demikian kita saling berbeda secara fisik, kepribadian, rasa dan pengetahuan.

Perlu diketahui bahwa perbedaan ini adalah anugerah Tuhan yang agung sebagai penyempurna kekuatan antara satu dengan yang lainnya, sebagaimana kaidah nabi menyatakan bahwa: “Setiap kemudahan untuk maksud penciptaannya”.  Merupakan keindahan dari kemu’jizatan Rabbany dalam penciptaan manusia adalah kepemilikinnya akan ruang bebas untuk berkreativitas yang berbeda dengan manusia yang lainnya. Kesadaran akan anugerah tersebut akan menjadikan manusia memahami perbedaan yang ada pada diri dan pada diri orang lain sebagai ruag untuk saling melengkapi dan menyempurnakan satu dengan yang lainnya.

Kesadaran tersebut akan ia dapatkan dari universitas kenabiaan dalam kaidah kesuksesannya bersama-sama dengan orang lain melakukan aktvitas berarti bagi kehidupannya. Kaidah sukses dalam universitas kenabiaan tersebut adalah: “”Setiap kemudahan untuk maksud penciptaannya” dan “Tangan Allah bersama kelompok”

Sebagaimana Ibnu Qayyim juga memberi catatan yang cukup menarik dari dalam hal ini, yaitu: “Manusia sempurna dalam dirinya dan sebagai penyempurna bagi orang-orang di luar dirinya”

Tabi’at Melakukan Kesalahan

Tabi’at melakukan kesalahan  merupakan masalah bersama antar manusia, sebagai hikmah, terapinya dan manfaat-manfaat yang dilahirkannya. Kesalahan merupakan bagian dari karakter manusia sebagaimana sabda Nabi SAW: “Setiap anak Adam melakukan kesalahan”

Melakukan kesalahan merupakan kesempatan yang menarik untuk menjelaskan  pengalaman diri dan pengalaman orang-orang di luar diri kita, kesalahan merupakan laboratorium olah diri, di dalamnya orang yang melakukan kesalahan akan melatih dirinya untuk menyadari  kesalahan dan kelemahan dirinya, sehingga ia juga dapat melatih dirinya untuk segera memperbaikinya dengan memakai pola yang cerdas dan dapat mengeluarkannya dari kesalahan dan tidak mengulanginya – dengan idzin Allah -

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.